Tugas Mandiri 04

Nama : Maysha Sekar Wahyuning Gusti

NIM : 43125010213


 REFLEKSI KEWARGANEGARAAN


Judul : Bersatu Padu di Perumahan Permata Hijau: Cerita Pak Ahmad, Ibu Wati, serta Taman RT yang Mempersatukan Warga

Lokasi Observasi : Perumahan Permata Hijau, Kelurahan Grogol Utara, Kota Jakarta Selatan 


Isi Refleksi : 

Pendahuluan 

Saya memilih Perumahan Permata Hijau sebagai lokasi pengamatan karena di lingkungan ini ada sekitar lima puluh keluarga dengan berbagai macam perbedaan latar belakang sosial dan budaya. Ada warga yang asalnya dari suku Jawa, Sunda, Minang, juga Tionghoa serta beragam agama, yaitu Islam, Kristen, dan Khonghucu.Dari sisi pekerjaan pun bermacam-macam mulai dari pekerja pemerintah, pedagang, hingga ibu rumah tangga.Keberagaman ini menjadikan Permata Hijau seperti miniatur Indonesia yang menarik untuk dipelajari. Dalam kondisi negara yang sering kali diwarnai dengan masalah perbedaan dan sikap tidak toleran, saya ingin melihat bagaimana warga di sana menerapkan semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari mereka.


Temuan Observasi

Contoh Positif:

Setiap hari Minggu pagi, warga Perumahan Permata Hijau rutin melakukan kerja bakti untuk membersihkan taman yang ada di Perumahan.Kegiatan ini dipimpin secara bergantian oleh Pak Ahmad (Muslim) dan Ibu Wati (Kristen). Semua warga ikut serta tanpa melihat dari mana suku atau agamanya. Mereka saling bekerja sama dengan semangat persatuan, saling menolong, dan bercanda dengan sangat akrab.

Selain itu, saat merayakan Hari Kemerdekaan setiap tanggal 17 Agustus, suasana di lingkungan perumahan menjadi sangat ramai. Warga menghiasi jalan dengan bendera merah putih dan umbul-umbul, serta mengadakan lomba antarblok seperti tarik tambang dan balap karung. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa pun ikut bermain. Dalam acara itu, tidak terlihat adanya perbedaan status sosial atau agama semua bersatu dalam semangat cinta tanah air dan persaudaraan.

Kegiatan positif lainnya terjadi saat hari-hari besar keagamaan. Saat Idul Fitri, warga non-Muslim ikut membantu menyiapkan makanan untuk acara silaturahmi.Begitu juga, saat Natal, keluarga Muslim ikut datang ke acara syukuran sederhana di rumah warga yang beragama Kristen.Saling menghormati dan mengunjungi satu sama lain menjadi kebiasaan yang tumbuh dengan sendirinya di lingkungan ini.

Contoh Negatif:

Namun, di balik suasana yang tenang ini, ada juga tantangan.Di grup WhatsApp warga, pernah muncul diskusi tentang izin memakai lapangan perumahan untuk kegiatan ibadah bersama. Beberapa warga khawatir kegiatan itu bisa mengganggu kenyamanan warga lainnya, sementara sebagian merasa itu adalah wujud kebersamaan. Diskusi itu sempat menimbulkan ketegangan sebelum akhirnya diselesaikan dengan musyawarah.

Selain itu, sebagian anak muda di lingkungan ini terlihat kurang aktif dalam kegiatan sosial. Mereka lebih memilih berinteraksi secara online melalui media sosial daripada ikut langsung dalam kegiatan warga. Akibatnya, komunikasi antara generasi yang berbeda masih kurang terjalin dengan baik.


Analisis

Setelah saya melihat dengan saksama, saya menemukan bahwa budaya gotong royong dan kegiatan bersama seperti peringatan Hari Kemerdekaan menunjukkan adanya penyatuan masyarakat secara mendatar, di mana hubungan baik yang biasa terjadi antar warga yang setara dan terbuka membangun kedekatan. Dalam hal ini, kegiatan sosial sangat penting dalam menumbuhkan rasa persatuan dan memperkuat hubungan antar masyarakat.

Di sisi lain, sedikit ketegangan di grup WhatsApp warga menunjukkan masalah yang muncul akibat adanya perbedaan pendapat secara online di lingkungan sekitar. Ini terkait dengan masalah perbedaan pandangan politik yang sering diteliti (LIPI, 2020), di mana perbedaan pendapat bisa muncul, bahkan dalam kelompok kecil seperti tingkat RT atau perumahan. Namun, menariknya, warga Permata Hijau bisa menyelesaikan masalah ini dengan berdiskusi bersama, yang menunjukkan kuatnya nilai gotong royong dan praktik demokrasi Pancasila.

Hal utama yang membuat warga Perumahan Permata Hijau bersatu adalah hubungan emosional yang dekat dan tujuan yang sama, seperti menjaga lingkungan tetap bersih, merasa aman, dan kenyamanan bersama. Nilai-nilai ini menjadi penghubung perbedaan suku, agama, dan usia.


Refleksi Diri

Dari pengamatan ini, saya jadi sadar bahwa saya sering hanya “melihat saja tanpa ikut terlibat” dalam kehidupan sosial di lingkungan tempat saya tinggal. Saya jarang ikut kegiatan warga dan lebih sering hanya melihat informasi dari grup WhatsApp. Sebagai seorang mahasiswa yang pintar menggunakan teknologi dan media sosial, saya sebenarnya punya kesempatan untuk memberikan bantuan.Contohnya, saya bisa membantu membuat desain poster acara, mengelola akun media sosial RT, atau membuat konten positif tentang kebersamaan warga Permata Hijau.


Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa menanamkan semangat Bhinneka Tunggal Ika tidak harus selalu dengan melakukan hal-hal besar. Semangat itu lebih sering muncul dari hal-hal kecil, seperti menyapa tetangga, ikut kerja bakti, atau menghormati perayaan agama masing-masing. Tindakan sederhana itu bisa memperkuat rasa persaudaraan dan mencegah munculnya prasangka antar warga.


Kesimpulan dan Rekomendasi :

Setelah mengamati dan merenungkan, saya menyimpulkan bahwa penyatuan sosial di Perumahan Permata Hijau berjalan dengan cukup baik. Warga berhasil membangun rasa kebersamaan dan saling menghormati meskipun memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Ini menunjukkan bahwa semangat Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya sekadar kata-kata, tetapi benar-benar ada dalam kehidupan sehari-hari.


Untuk memperkuat kebersamaan itu, saya punya beberapa saran:

1. Mengadakan “Festival Makanan Nusantara” 

sebagai wadah untuk memperkenalkan berbagai budaya dan mempererat hubungan antar warga.

2. Membuat aturan tentang cara berkomunikasi yang baik secara online 

agar perbedaan pendapat dalam grup WhatsApp warga tidak menimbulkan salah paham atau masalah.

3. Mengaktifkan kembali organisasi karang taruna dan kegiatan remaja komplek

agar anak muda lebih berperan dalam mengembangkan rasa saling peduli.


Dengan langkah-langkah sederhana seperti ini, lingkungan kecil seperti Perumahan Permata Hijau bisa menjadi contoh nyata bagaimana nilai-nilai kebangsaan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari menjaga kerukunan di tengah perbedaan, sesuai dengan semboyan mulia bangsa kita: Bhinneka Tunggal Ika.

Komentar

Postingan Populer