Tugas Mandiri 10

 Nama : Maysha Sekar Wahyuning Gusti 

NIM : 43125010213

Matkul : Kewarnegaraan 

Urgensi Wawasan Nusantara dalam Menghadapi Globalisasi dan Menjaga Keberagaman Budaya Indonesia

Pendahuluan

Indonesia merupakan gugusan pulau terbesar yang menyimpan kekayaan ragam bentang alam, masyarakat, dan adat istiadat. Keistimewaan ini mewajibkan adanya pandangan kebangsaan yang mampu merangkul keragaman sekaligus menjaga kepentingan negara secara menyeluruh. Salah satu gagasan pokok yang timbul dari keharusan ini adalah wawasan nusantara. Wawasan nusantara merujuk pada cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri mereka serta lingkungan sekelilingnya yang memprioritaskan keutuhan wilayah dan kebersamaan bangsa dalam urusan kenegaraan dan kehidupan bangsa.

Pada masa globalisasi sekarang, Indonesia dihadapkan pada dua persoalan besar yang saling bersinggungan. Yang pertama, derasnya gelombang globalisasi yang membawa pengaruh informasi, ekonomi, dan kebudayaan dunia tanpa batas. Yang kedua, realitas keragaman budaya Indonesia yang di satu sisi merupakan keunggulan bangsa, namun di sisi lain berpeluang memicu perpecahan jika penanganannya kurang cakap. Globalisasi dapat menggerus kepentingan bangsa, sementara keanekaragaman budaya tanpa pemersatu yang kokoh bisa membahayakan keutuhan negara.

Maka dari itu, tulisan ini menyoroti bahwa wawasan nusantara memegang peranan amat vital dan strategis dalam menghadapi tantangan globalisasi serta menata keragaman budaya Indonesia. Wawasan nusantara bukanlah sekadar kerangka pemikiran belaka, melainkan juga menjadi arahan sikap dan perilaku bagi negara beserta warganya, khususnya kaum muda dan mahasiswa, agar Indonesia tetap tangguh, mandiri, dan berjati diri di tengah pergantian zaman.

 

Wawasan Nusantara dan Tantangan Globalisasi

Globalisasi merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan modern. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membuat dunia seolah tanpa batas. Globalisasi membawa peluang besar, seperti kemudahan akses informasi, kerja sama ekonomi internasional, dan kemajuan ilmu pengetahuan. Namun, globalisasi juga menghadirkan ancaman serius bagi identitas nasional Indonesia. Masuknya budaya asing secara masif melalui media sosial, film, musik, dan gaya hidup sering kali mendorong masyarakat, terutama generasi muda, untuk meniru tanpa proses penyaringan yang kritis. Akibatnya, nilai-nilai Pancasila, nasionalisme, dan kearifan lokal berisiko terpinggirkan.

Dalam bidang ekonomi, globalisasi menciptakan persaingan yang sangat ketat. Produk asing dengan harga murah dan kualitas tinggi membanjiri pasar domestik, yang dapat melemahkan industri lokal jika tidak diimbangi dengan kebijakan yang tepat. Ketergantungan ekonomi terhadap pihak asing juga berpotensi mengurangi kemandirian bangsa.

Di sinilah wawasan nusantara berfungsi sebagai filter sekaligus strategi. Prinsip Kesatuan Politik menegaskan bahwa Indonesia harus memiliki kedaulatan penuh dalam menentukan arah kebijakan nasional tanpa intervensi asing. Sementara itu, prinsip Kesatuan Ekonomi menekankan bahwa seluruh wilayah Indonesia merupakan satu kesatuan ekonomi yang harus dikembangkan secara adil dan merata. Dengan berlandaskan wawasan nusantara, globalisasi tidak ditolak secara total, melainkan disikapi secara selektif dan cerdas.

Secara reflektif, wawasan nusantara dapat diterapkan dalam sikap individu. Misalnya, sebagai konsumen, masyarakat tidak serta-merta menolak produk global, tetapi tetap mengutamakan dan mencintai produk dalam negeri. Sebagai mahasiswa, wawasan Nusantara mendorong sikap kritis terhadap informasi global, tidak mudah terprovokasi isu-isu yang dapat memecah belah bangsa, serta tetap menjunjung nilai Pancasila dalam pergaulan global. Dengan demikian, globalisasi dapat dimanfaatkan sebagai peluang kemajuan tanpa mengorbankan jati diri bangsa.

Wawasan Nusantara dan Kekuatan Keberagaman Budaya

Keberagaman merupakan realitas yang tidak terpisahkan dari Indonesia. Suku, agama, ras, bahasa, dan adat istiadat yang berbeda-beda menyatu dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Keberagaman ini sejatinya adalah kekayaan nasional yang luar biasa. Namun, dalam praktiknya, perbedaan sering kali dijadikan alat provokasi yang memicu konflik sosial, intoleransi, dan bahkan disintegrasi bangsa.

Wawasan Nusantara berperan sebagai integrator keberagaman. Prinsip Kesatuan Sosial-Budaya menegaskan bahwa kebudayaan nasional Indonesia merupakan hasil interaksi dan akulturasi seluruh kebudayaan daerah yang hidup dan berkembang secara harmonis. Tidak ada budaya yang lebih tinggi atau lebih rendah, melainkan semuanya memiliki posisi yang setara dalam kerangka kebangsaan Indonesia.

Asas-asas dalam wawasan nusantara, seperti solidaritas, keadilan, dan kepentingan yang sama, menjadi kunci dalam mengelola perbedaan SARA. Solidaritas mendorong rasa empati dan persaudaraan antarsesama anak bangsa. Keadilan memastikan bahwa setiap kelompok memperoleh hak dan kesempatan yang sama. Sementara itu, kepentingan yang sama mengingatkan bahwa persatuan dan keutuhan bangsa merupakan tujuan bersama yang harus diutamakan di atas kepentingan golongan.

Dalam konteks ini, mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. Di lingkungan kampus yang multikultural, mahasiswa dapat mengaktualisasikan wawasan nusantara melalui sikap toleran, dialog antarbudaya, serta penolakan terhadap ujaran kebencian dan diskriminasi. Mahasiswa juga dapat berkontribusi melalui kegiatan sosial, pengabdian masyarakat, dan literasi digital untuk menyebarkan nilai persatuan dan kebhinekaan. Dengan demikian, wawasan nusantara tidak hanya menjadi wacana akademik, tetapi benar-benar hidup dalam praktik keseharian.

 

Penutup

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa wawasan wusantara merupakan konsepsi fundamental yang sangat relevan dalam menghadapi tantangan globalisasi dan mengelola keberagaman budaya Indonesia. Globalisasi membawa peluang dan ancaman yang harus disikapi secara bijaksana melalui prinsip kesatuan politik dan ekonomi. Sementara itu, keberagaman budaya yang dimiliki Indonesia hanya dapat menjadi kekuatan nasional jika diintegrasikan melalui kesatuan sosial-budaya yang berlandaskan solidaritas, keadilan, dan kepentingan bersama.

Wawasan nusantara bukan sekadar konsep geopolitik, melainkan pedoman hidup berbangsa dan bernegara yang harus terus diinternalisasi oleh seluruh warga negara, terutama generasi muda. Di masa depan, tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia akan semakin kompleks, sehingga penguatan Wawasan Nusantara menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar.

Sebagai bentuk komitmen pribadi, penulis meyakini bahwa penerapan wawasan nusantara dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti bersikap toleran, mencintai produk lokal, berpikir kritis terhadap pengaruh global, serta aktif menjaga persatuan di lingkungan sekitar. Dengan kesadaran kolektif dan tindakan nyata, wawasan nusantara akan tetap menjadi fondasi kokoh bagi Indonesia yang berdaulat, bersatu, dan berkepribadian di tengah arus globalisasi.

Daftar Pustaka

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. (2020). Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara. Jakarta: BPIP.

Kaelan. (2016). Pendidikan kewarganegaraan untuk perguruan tinggi. Yogyakarta: Paradigma.

Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. (2015). Wawasan Nusantara dan ketahanan nasional. Jakarta: Kemhan RI.

Suryohadiprojo, S. (2014). Manajemen pertahanan dan wawasan nusantara. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Tilaar, H. A. R. (2012). Kebudayaan dan kekuasaan: Dinamika pendidikan nasional dalam pusaran globalisasi. Jakarta: Rineka Cipta.

Winarno. (2018). Paradigma baru pendidikan kewarganegaraan. Jakarta: Bumi Aksara.

 


Komentar

Postingan Populer